Pelajar NU dan Khidmah di Grassroots Antara Idealitas, Pengorbanan, dan Kritik yang Perlu Didengar |
MEDIA IPNU - Di tubuh Nahdlatul Ulama, pelajar sering disebut sebagai masa depan organisasi. Namun dalam praktik sehari-hari, masa depan itu justru banyak ditopang oleh kerja sunyi para pelajar NU yang berkhidmah di grassroots (akar rumput): Pimpinan Ranting, Pimpinan Anak Cabang, hingga Pimpinan Cabang.
Mereka adalah wajah NU yang paling dekat dengan
masyarakat, tetapi sekaligus yang paling jarang mendapat sorotan. Di balik
jargon kaderisasi dan militansi organisasi, terdapat realitas tentang
kerja-kerja pengabdian yang sering kali tidak sebanding dengan perhatian,
dukungan, maupun apresiasi yang diterima.
Pelajar NU di tingkat ranting adalah garda terdepan. Mereka berhadapan langsung dengan keterbatasan: minim fasilitas, kas organisasi yang nyaris tidak ada, serta beban kerja yang bertumpu pada sedikit orang.
Namun justru di ruang sempit itulah khidmah diuji. Menghidupkan kegiatan
keagamaan, mengorganisir pelajar desa, menjaga tradisi ke-NU-an, hingga sekadar
memastikan organisasi tidak mati, menjadi tanggung jawab yang dijalankan dengan
sukarela. Banyak di antara mereka masih berstatus pelajar atau mahasiswa dengan
kondisi ekonomi pas-pasan, tetapi tetap menyisihkan waktu, tenaga, bahkan uang
pribadi demi organisasi.
Naik ke tingkat Pimpinan Anak Cabang, tantangan tidak semakin ringan. Wilayah yang lebih luas, koordinasi antar ranting yang rumit, serta tuntutan administratif yang kian kompleks sering kali tidak diimbangi dengan pembekalan yang memadai.
Di sinilah pelajar NU belajar tentang
kepemimpinan yang sesungguhnya: memimpin tanpa fasilitas, menggerakkan tanpa
kuasa, dan bertahan tanpa jaminan. Banyak PAC IPNU–IPPNU hidup dari semangat
kolektif, bukan dari sistem yang mapan. Jika semangat itu runtuh, organisasi
pun ikut melemah.
Sementara itu, di tingkat Pimpinan Cabang, pelajar NU berada di persimpangan antara idealisme dan realitas struktural. PC diharapkan menjadi pusat kaderisasi, intelektualisme, dan penggerak isu-isu strategis pelajar. Namun tidak sedikit cabang yang justru terjebak dalam rutinitas seremoni, rapat-rapat formal, dan agenda yang berulang tanpa dampak nyata bagi ranting dan PAC.
Kesenjangan antara wacana di tingkat cabang dan realitas di
grassroots sering kali terasa tajam. Pelajar ranting berjuang menghidupkan
organisasi, sementara di tingkat atas sibuk dengan simbol dan legitimasi
struktural.
Khidmah pelajar NU sejatinya adalah khidmah kultural dan
struktural sekaligus. Mereka tidak hanya mengurus organisasi, tetapi juga
menjaga nilai Aswaja, merawat tradisi keagamaan, dan menjadi benteng moderasi
di tengah arus ekstremisme dan pragmatisme. Namun ironisnya, pelajar NU sering
diperlakukan sebatas pelaksana teknis, bukan subjek pemikiran. Gagasan dari
bawah jarang naik ke atas, sementara kebijakan dari atas kerap turun tanpa
memahami kondisi lapangan.
Di sinilah kritik untuk IPNU dan IPPNU menjadi relevan.
Organisasi pelajar NU ini seringkali terlalu larut dalam romantisme kaderisasi,
tetapi abai pada keberlanjutan kader. Pelatihan demi pelatihan digelar, tetapi
pendampingan pasca-pelatihan minim. Banyak kader dilepas begitu saja setelah
mengikuti kegiatan formal, tanpa ruang aktualisasi yang jelas. Akibatnya,
semangat awal perlahan padam, digantikan kelelahan dan kejenuhan.
Selain itu, IPNU–IPPNU juga perlu mengkritisi budaya struktural yang terlalu hirarkis. Akar rumput sering diposisikan sebagai “objek pembinaan”, bukan mitra dialog. Kritik dari ranting atau PAC kerap dianggap sebagai bentuk pembangkangan, bukan masukan.
Padahal, organisasi pelajar
seharusnya menjadi ruang belajar demokrasi yang sehat, bukan miniatur birokrasi
yang kaku. Jika budaya ini terus dibiarkan, IPNU–IPPNU berisiko kehilangan
kader kritis dan hanya melahirkan pelaksana yang patuh tanpa daya analisis.
Kritik lain yang tidak kalah penting adalah
kecenderungan IPNU–IPPNU mengejar kuantitas kader tanpa memperhatikan kualitas
keberpihakan. Banyak kader aktif secara struktural, tetapi tercerabut dari
realitas sosial pelajar di akar rumput. Isu-isu seperti putus sekolah,
kemiskinan pelajar desa, keterbatasan akses pendidikan, dan problem pekerja
muda jarang menjadi agenda serius. Padahal, pelajar NU di ranting dan PAC
setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan tersebut.
Namun demikian, kritik ini bukan untuk melemahkan,
melainkan untuk menguatkan. Pelajar NU di akar rumput telah membuktikan bahwa
khidmah tidak selalu membutuhkan panggung besar. Mereka bekerja dalam sunyi,
menjaga api organisasi agar tetap menyala. Tugas IPNU–IPPNU ke depan adalah
memastikan bahwa api itu tidak padam karena kelelahan struktural dan pengabaian
sistemik.
Jika IPNU–IPPNU ingin tetap relevan, maka orientasi
organisasi harus dikembalikan ke bawah: mendengar ranting, menguatkan PAC, dan
menjadikan cabang sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar etalase. Pelajar NU bukan
hanya masa depan, mereka adalah masa kini yang sedang berjuang. Mengabaikan
mereka berarti mempertaruhkan keberlanjutan organisasi itu sendiri.
Khidmah pelajar NU di grassroots adalah cermin ketulusan. Pertanyaannya, apakah organisasi cukup jujur untuk bercermin dan berbenah? Jika iya, maka IPNU–IPPNU masih punya harapan besar. Jika tidak, pelajar NU akan tetap berkhidmah—tetapi mungkin tanpa organisasi yang benar-benar hadir untuk mereka.
Penulis: Sony Andareza/Sondol
Baca juga:
- Dari Keresahan ke Pergerakan: Catatan Perjalanan IPNU IPPNU Kecamatan Pagu Kediri
- Siapkan Kader Melek Aturan, PAC IPNU IPPNU Loceret Nganjuk Gelar Diklat Persidangan
- Rutinan PR IPNU IPPNU Warujayeng Nganjuk, Kuatkan Tradisi dan Kokohkan Kebangsaan
- Serius Perangi Pungli, IPNU Sumut Buka Posko Pengaduan dan Resmi Sampaikan Dumas ke APH
- Rapimnas IPNU 2026, PP IPNU Gelar Seminar Koperasi Merah Putih untuk Anak Muda NU
INFO: Ikuti terus informasi berita terikini dari Media IPNU dengan follow Instagram @mediaipnu. Anda juga bisa ikut berkontribusi mengirimkan esai, opini, atau berita kegiatan IPNU IPPNU di daerah Rekan/Rekanita dengan mengirim email ke redaksimediaipnu@gmail.com atau klik di SINI.
sae mas ndol
BalasHapus