Dari Keresahan ke Pergerakan: Catatan Perjalanan IPNU IPPNU Kecamatan Pagu Kediri

Dari Keresahan ke Pergerakan: Catatan Perjalanan IPNU IPPNU Kecamatan Pagu Kediri
Ilustrasi: Kader IPNU IPPNU | www.pelajarnungronggot.or.id

MEDIA IPNU - Cerita ini dimulai dari sebuah kegelisahan. Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Namun baiklah, kita mulai dari sini. Dari sesuatu yang mungkin kalian bayangkan sebagai hal yang sangat besar; sesuatu yang menjadi penerang dalam gelap, menjadi kompas mata angin di tengah kesesatan malam, menjadi penghangat dalam dinginnya kesendirian, serta menjadi harapan bagi siapa pun yang sedang membutuhkan pelukan hangat. 

Ketika menyampaikan hal-hal tersebut, apa yang kalian bayangkan? Harapanku, yang kalian bayangkan adalah diri kalian sendiri. Sebab kalian pun tidak kalah penting dan hebat dari apa yang akan kita bahas dalam cerita ini.

Sejujurnya, aku sempat bingung apakah cerita ini perlu disampaikan atau tidak. Aku juga bingung harus mengambil sudut pandang yang mana. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, tulisan ini hanyalah cerita dari pengalaman pribadiku. 

Maka apabila terdapat beberapa bagian yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan pandangan teman-teman, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Baik, kita lanjut. Aku akan memulainya dari segala keresahan yang ada di dunia ini, khususnya dunia IPNU IPPNU di Kecamatan Pagu. Kita semua tentu sepakat bahwa keresahan paling besar sering kali bermula dari tingkat ranting, tempat banyak persoalan terjadi. Mulai dari persoalan kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh ranting itu sendiri, hingga persoalan besar yang membutuhkan campur tangan pihak-pihak tertentu untuk dapat diselesaikan.

Setelah beberapa tahun menjadi bagian dari organisasi yang paling kucintai ini, akhirnya kami menyadari bahwa di Kecamatan Pagu—bahkan mungkin di tingkat Kabupaten Kediri—permasalahan paling mendasar dan besar adalah minimnya minat pelajar dan pemuda untuk bergabung dan bertahan dalam organisasi. Padahal, ketika sebuah organisasi benar-benar dikenali, dicintai, dan disayangi, rasanya tidak mungkin untuk ditinggalkan, dilupakan, apalagi diabaikan. Wkwkwk.

Banyak rekan seperjuangan merasakan beragam persoalan di ranting A hingga ranting Z, dari periode sebelumnya hingga periode yang baru. Hingga pada satu titik muncul kesadaran bahwa kita tidak akan bisa maju, tidak akan bisa sampai di garis akhir, jika di setiap langkah masih terdapat banyak persoalan yang sebagai pengurus organisasi tercinta ini tidak mungkin kita biarkan begitu saja.

Ada satu momen pada tahun 2023, di tengah perjalanan pendistribusian undangan ke ranting-ranting di Kecamatan Pagu. Dengan bermodalkan sepeda motor tua dan ditemani CO Departemen Organisasi yang luar biasa pada masa itu, yakni rekan Sony Andareza alias Sondol, yang selalu menjadi partner diskusi mengenai berbagai persoalan IPNU IPPNU, khususnya di Kecamatan Pagu. 

Diskusi kami tidak mengenal lelah, waktu, bahkan tempat. Entahlah, mungkin di kepalanya sudah bukan lagi otak, melainkan logo IPNU IPPNU. Wkwkwk.

Pada momen tersebut, kami berdiskusi tentang banyak hal, hingga muncullah sebuah kalimat yang perlahan menjadi tujuan, bahkan harapan, untuk selalu ingin diwujudkan. Kalimat itu berbunyi:

“Ah, rasane aku pengen membentuk sebuah tim sing bener-bener tugase mlebu nde ranting-ranting, Ndol. Menelusuri segala permasalahan sing onok nde ranting, seakan menjadi bagian dari ranting. Sing iso mak clurut-clurut mubeng sak Pagu, clurut rono, clurut rene kaya tikus clurut. Sekalian di jenengne tim Clurut, terus diwei logo gambar tikus.”

(Wacana ini dibahas di tengah perjalanan Dusun Padangan Pagu ke arah selatan menuju Kecamatan Ngasem, sambil tertawa, berteriak, dan membahas Tim Clurut dengan penuh kegembiraan).

Namun seiring berjalannya waktu hingga masa periode berakhir, Periode 2021–2023 pun selesai. Mimpi dan harapan itu akhirnya hanya menjadi angan-angan, bahkan berubah menjadi penyesalan. Padahal di dalamnya tersimpan harapan besar untuk diwujudkan. Banyak hal yang menjadi kendala terealisasinya mimpi tersebut, salah satunya karena mimpi itu hanya disimpan sendiri, tidak diperjuangkan, dan hanya menjadi bayangan yang ditakuti. 

Dari sini aku belajar, bahwa ketika kita memiliki mimpi, jangan hanya menyimpannya dalam angan-angan. Mimpi itu harus ditulis, disampaikan, dipresentasikan, bahkan diperjuangkan. Agar apa? Agar setidaknya, jika tidak terwujud, ia tetap menjadi pelajaran berharga untuk menyiapkan strategi yang lebih baik kedepannya.

Periode pun berganti dengan ketua dan kepengurusan yang baru. Dengan bekal pengalaman dan skuad yang dapat diandalkan, rasa percaya diri untuk menghadirkan perubahan—atau setidaknya perbaikan—menjadi lebih besar. Kami berjalan dengan tujuan meningkatkan kualitas IPNU IPPNU se-Kecamatan Pagu agar menjadi lebih baik dalam segala aspek, baik internal maupun eksternal. Kami berkomitmen untuk melangkah dengan satu kalimat pedoman: to the next level.

Segalanya berjalan sebagaimana dinamika organisasi IPNU IPPNU pada umumnya. Ada program yang terealisasi dengan lancar, ada yang kurang maksimal, bahkan ada pula yang tidak berjalan sama sekali. Namun upaya untuk meningkatkan kualitas internal dan eksternal pengurus PAC IPNU IPPNU Kecamatan Pagu mulai terasa.

Singkat cerita, di tengah perjalanan ini kami menyadari masih banyak kekurangan, khususnya di Departemen Organisasi. Pada periode ini, kami memiliki misi untuk membangun pondasi yang kuat dan menciptakan sistem yang dapat dimaksimalkan oleh periode-periode selanjutnya. 

Beberapa langkah yang kami lakukan antara lain sosialisasi batas usia ketua dan pengurus, instruksi kemandirian pelantikan ranting, penentuan jadwal RAPTA secara serentak pada bulan April–Mei, dan lain sebagainya.

Dalam proses ini, kami menyadari bahwa kami membutuhkan amunisi dan alat tempur yang lebih kuat. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan bantuan dari rekan-rekan pengurus lainnya. Alhamdulillah, hampir seluruh pengurus memberikan respons yang sangat baik. 

Banyak program Departemen Organisasi yang dibantu oleh tokoh-tokoh dari departemen lain, pengurus harian, bahkan ketua sekalipun. Atas nama Departemen Organisasi, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa kalian, kami tidak akan bisa menyelesaikan semua ini dengan rasa bangga seperti sekarang.

Instruksi RAPTA pemilihan ketua ranting telah disebarkan sejak RAKER II bulan Januari. Namun mendekati pelaksanaan RAPTA, kami menyadari bahwa persiapan masih belum maksimal. Kami mulai menyiapkan tim untuk menjadi petugas RAPTA, memberikan pelatihan dengan menghadirkan Waka I PC IPNU IPPNU Kabupaten Kediri pada masa itu, yakni rekan Wahid dan rekanita Nuha sebagai pemateri dalam kegiatan bertajuk Ngopi Organisasi yang dilaksanakan di rumah rekanita Ella Erlita selaku Waka I PAC IPPNU Kecamatan Pagu. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus PAC IPNU IPPNU Kecamatan Pagu, khususnya Departemen Organisasi.

Kami memberikan latihan kepada tim Departemen Organisasi, bahkan melakukan simulasi langsung pada kegiatan Buka Bersama Pelajar NU se-Kecamatan Pagu. Kami berusaha memberikan edukasi secara langsung kepada tim Departemen Organisasi, para pengurus, serta seluruh ranting di Kecamatan Pagu mengenai konsep RAPTA yang lebih baik dari sebelumnya. 

Dari kegiatan ini, hampir semua pihak dapat memahami maksud dan tujuan, sehingga setiap ranting mampu mempersiapkan kebutuhan administrasi maupun non-administrasi, termasuk yang paling penting, menyiapkan calon ketua. Wkwkwk.

Dari kegiatan tersebut, kami menyadari bahwa mengandalkan tim Departemen Organisasi saja tidaklah cukup. Kami membutuhkan amunisi tambahan. Setelah melakukan evaluasi, muncul fakta bahwa sebagian pengurus kami sendiri belum sepenuhnya memahami apa itu RAPTA dan apa saja yang ada di dalamnya. Kami pun berdiskusi untuk mencari cara agar tim petugas RAPTA dapat bekerja maksimal dan seluruh pengurus memahami esensi RAPTA.

Singkat cerita, setelah berdiskusi, muncullah ide untuk membentuk tim petugas RAPTA yang tidak hanya diisi oleh Departemen Organisasi, tetapi juga melibatkan anggota departemen lain serta pengurus harian. Sistem yang digunakan adalah penawaran terbuka layaknya open recruitment, serta permintaan bantuan secara langsung.

Ide ini kemudian kami sampaikan kepada pengurus harian dan ketua untuk mendapatkan masukan dan restu. Alhamdulillah, ide ini diterima dengan baik. Bahkan beberapa pengurus harian dan ketua turut terjun langsung dalam tim RAPTA untuk memimpin RAPTA PR dan PK di Kecamatan Pagu.

Kami berdua berusaha mempersiapkan segala sesuatunya: menyusun buku pedoman sendiri yang disesuaikan dengan kondisi Kecamatan Pagu, berkiblat pada pedoman PC IPNU IPPNU Kabupaten Kediri, membuat video simulasi agar mudah dipelajari, serta melakukan simulasi berulang kali guna melatih keberanian dan meminimalisasi kesalahan saat bertugas di forum RAPTA yang sesungguhnya.

Adapun nama-nama anggota tim RAPTA yang terjun antara lain: rekan Ibnu, Zuka, Ahmad, Hafana, Miftah, Robin, Hilmy, Nanang, Niko, serta rekanita Silma, Fina, Fida, Septi, Liza, Natul, Ilma, Sasa, Zulfa, dan Nana. 

Alhamdulillah, hampir seluruh nama tersebut masih bertahan hingga periode ini, bahkan ada yang telah menjadi ketua. Sebagian besar dari mereka kini memahami dan merasakan langsung peran sebagai pimpinan sidang, sekretaris sidang, serta mulai memahami PD dan PRT IPNU IPPNU sebagai bekal perjalanan organisasi ke depan.

Keberhasilan tim RAPTA ini membuka mata kami bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Namun bukan sembarang pengalaman, melainkan pengalaman yang berkualitas dan berkompeten. Dari sinilah muncul sebuah ide baru—ide yang kelak menjadi jawaban atas segala keresahan dan menjadi titik balik bagi kita semua.

Penulis: Agus Setiawan

Baca juga:

INFO: Ikuti terus informasi berita terikini dari Media IPNU dengan follow Instagram @mediaipnu. Anda juga bisa ikut berkontribusi mengirimkan esai, opini, atau berita kegiatan IPNU IPPNU di daerah Rekan/Rekanita dengan mengirim email ke redaksimediaipnu@gmail.com atau klik di SINI.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama